IAIN Pontianak Sediakan Juru Bahasa Isyarat untuk 6 Mahasiswa Disabilitas Selama PBAK 2026

Penulis: Luqman Arif  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 22:45:02 WIB
Juru bahasa isyarat mendampingi mahasiswa Tuli mengikuti sesi PBAK di IAIN Pontianak.

PONTIANAK — Dari enam mahasiswa baru disabilitas yang tercatat di IAIN Pontianak tahun ini, empat di antaranya adalah mahasiswa Tuli. Mereka kini mengikuti PBAK dengan didampingi Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang disiagakan kampus selama tiga hari penuh.

Satu mahasiswa Netra dan satu mahasiswa Grahita juga tergabung dalam kelompok mahasiswa baru berkebutuhan khusus tersebut. Total enam mahasiswa ini menjadi bagian dari angkatan 2026 yang mengikuti PBAK bertema "Membentuk Generasi Berakar, Adaptif, dan Berdampak".

Juru Bahasa Isyarat Jadi Jembatan Komunikasi di Setiap Sesi

Kehadiran JBI bukan sekadar formalitas. Penerjemah isyarat bertugas mendampingi mahasiswa Tuli di setiap sesi materi, mulai dari pengenalan sistem akademik hingga pembahasan moderasi beragama.

Layanan ini merupakan tahun kedua bagi IAIN Pontianak. Kerja sama dengan Yayasan Bhakti Arumi Delangga – Maktab Tuli As-Sami dilakukan untuk memastikan komunikasi berjalan setara antara narasumber dan mahasiswa Tuli.

Bisindo Ikut Terkenal di Kalangan Civitas Akademika

M. Ramli, juru bahasa isyarat yang bertugas, mengaku bangga bisa mendampingi mahasiswa Tuli selama PBAK. Ia menilai kehadirannya sekaligus mengadvokasi Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) kepada mahasiswa baru dan civitas akademika.

Menurut Ramli, hal ini menunjukkan bahwa teman Tuli memiliki hak yang sama untuk belajar di perguruan tinggi. Pernyataan itu ia sampaikan di sela kegiatan PBAK, Senin (31/8/2026).

Komitmen yang Sejalan dengan Target SDGs Pendidikan

Langkah IAIN Pontianak ini merupakan bentuk nyata dari upaya mewujudkan lingkungan kampus yang inklusif. Kebijakan tersebut sejalan dengan tujuan SDGs Indonesia 4.a, yang menekankan pembangunan fasilitas pendidikan ramah anak, ramah penyandang disabilitas, dan ramah gender.

Lebih dari sekadar fasilitas fisik, inklusi di kampus berarti memastikan setiap mahasiswa mendapat kesempatan yang sama untuk belajar, berpartisipasi, dan berkembang. Ketika akses dibuka dan komunikasi dijembatani, perbedaan tidak lagi menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk tumbuh dan meraih masa depan.

Kehadiran mahasiswa Tuli di perguruan tinggi menjadi pengingat bahwa setiap orang berhak bermimpi dan memberi dampak. Kampus yang inklusif adalah kampus yang memastikan setiap suara—termasuk suara yang disampaikan melalui bahasa isyarat—didengar dan dihargai.

Reporter: Luqman Arif
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top