PONTIANAK — Sebanyak 2.434 titik panas terpantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak di Kalimantan Barat dalam 24 jam terakhir. Kondisi ini menjadi alarm meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sepekan ke depan.
Gubernur Kalbar Ria Norsan langsung merespons dengan menginstruksikan warga agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Dampaknya dinilai bakal dirasakan banyak orang, terutama dari paparan kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas penerbangan.
Norsan meninjau langsung lokasi kebakaran lahan gambut di kawasan Sekunder C, Sungai Raya, Kamis (3/9/2026). Ia menyaksikan petugas dan relawan kewalahan menjinakkan api yang telah menyala selama dua hari terakhir.
"Hari ini kita lihat di Sekunder C ini terjadi kebakaran tanah gambut. Cukup luas lahan gambut di sini, sehingga pemadam juga kewalahan memadamkannya. Sudah dua hari memadamkan di sini," ujarnya.
Luasnya area gambut dan medan yang sulit membuat proses pemadaman berlangsung lambat. Butuh waktu serta tenaga lebih besar untuk memastikan api benar-benar padam hingga ke lapisan tanah di bawah permukaan.
Imbauan ini bukan tanpa alasan. Norsan menegaskan bahwa pembakaran lahan yang memicu kabut asap berdampak pada banyak sektor, termasuk transportasi udara. Sejumlah bandara di Kalbar disebut rawan terdampak jika asap tebal menyelimuti wilayah.
"Tolonglah, karena kasihan gara-gara membakar lahan, yang korban ribuan orang. Bahaya asap dan lain sebagainya, penerbangan juga nggak bisa karena ini dekat dengan bandara," katanya.
Norsan menegaskan bahwa pencegahan menjadi kunci utama menekan meluasnya karhutla. Masyarakat diminta ikut menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api di sekitar permukiman maupun area perkebunan.
BMKG Kalbar turut mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan seiring kenaikan suhu udara dan berkurangnya potensi hujan. Cuaca kering disebut mempercepat penyebaran api dan menyulitkan proses pemadaman di lapangan.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api, khususnya membakar lahan. Kondisi ini juga berisiko memperpanjang musim kabut asap yang mengganggu aktivitas harian.
Untuk memantau perkembangan situasi, BMKG meminta warga terus mengikuti informasi titik panas melalui aplikasi Info BMKG, laman resmi BMKG Kalbar, serta media sosial resmi institusi tersebut.
"Peningkatan kewaspadaan diperlukan sebagai bagian dari upaya mencegah meluasnya karhutla dan menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat," kata Noven dari BMKG.