Trekking ke Air Terjun Pringgodani dari Centhung Blumbang, Jalur Menantang di Lereng Lawu

Penulis: Nurul Huda  •  Kamis, 03 September 2026 | 18:40:31 WIB
Trekking menuju Air Terjun Pringgodani dari Centhung Blumbang menyusuri jalur tanah dan bebatuan di lereng Lawu.

KALIMANTAN BARAT — Area parkir bawah di Centhung Blumbang menjadi titik awal petualangan. Khusus pengguna sepeda motor, kendaraan bisa ditinggal di sini sebelum berjalan kaki menyusuri pematang sawah milik warga setempat. Hanya butuh lima menit berjalan santai, hamparan kolam bebatuan alami Centhung Blumbang sudah terlihat jelas.

Daya Tarik Utama: Pemandian Alami dan Hutan Cemara

Kolam alami yang terbentuk dari batuan sungai ini menjadi magnet utama pengunjung. Airnya yang jernih dan segar langsung bersumber dari lereng Lawu, membuat sensasi berenang di sini berbeda dengan kolam buatan.

Dari area pemandian, lanjutkan perjalanan menyusuri aliran sungai. Suara gemercik air dan deretan pohon cemara yang masih lebat menemani setiap langkah. Beberapa titik landai di sepanjang tepi sungai bahkan bisa dimanfaatkan untuk mendirikan tenda, asalkan tetap menjaga kebersihan kawasan yang dirawat pengelola.

Jalur Trekking ke Air Terjun Pringgodani

Setelah puas berenang, tantangan sesungguhnya dimulai. Jalur setapak menuju Air Terjun Pringgodani masih berupa tanah dan bebatuan asli, dengan beberapa bagian curam dan menanjak. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 20 menit, tetapi sensasi alamnya sulit digantikan.

Hamparan hijau perbukitan dan kicauan burung liar mengiringi perjalanan. Kalau beruntung, traveler bisa berpapasan dengan satwa yang berkeliaran bebas. Edi Sukatno, pemilik lahan Centhung Blumbang, menyebut kawasan ini masih dihuni beragam fauna seperti lutung, rusa, hingga berbagai jenis burung.

"Sangat menarik ya, tentunya saya juga sangat suka pergi ke alam dengan pemandangan dan panorama yang sangat mempesona bagi saya, dan juga trekking jalannya juga ke sini cukup menantang, jadi tambah menarik untuk ke sini lagi," ujar Aziz, wisatawan asal Jumantono yang tengah berkunjung.

Pemandangan di ujung perjalanan membayar semua usaha. Air terjun setinggi tebing menjulang tampak megah, ditemani suara deras air yang jatuh ke kolam di bawahnya. Area ini cocok untuk berfoto atau sekadar duduk tenang menikmati udara segar khas pegunungan.

Tiket Masuk dan Fasilitas di Centhung Blumbang

Dengan biaya masuk Rp 10.000, pengunjung sudah mendapat akses ke area pemandian dan jalur trekking. Fasilitas penunjang seperti kantin, musala, toilet, hingga colokan listrik tersedia di sekitar area centhung. Aziz menilai fasilitas yang ada cukup baik meski suasananya tetap dibuat dekat dengan alam.

"Bagus banget, bagus pemandangannya, cocok sama cuacanya, menurut saya jalurnya sedikit ekstrem," kata Rahma, pengunjung asal Sarangan yang merasakan langsung tantangan medan menuju air terjun.

Tips Berkunjung ke Centhung Blumbang

Persiapan fisik menjadi kunci utama sebelum memulai trekking. Jalur yang menanjak dan berbatu membutuhkan stamina yang prima, terutama bagi traveler yang membawa anak kecil atau orang tua. Gunakan alas kaki yang nyaman dan anti-selip karena beberapa bagian jalur bisa licin saat terkena air.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari sebelum cuaca terlalu terik. Suasana masih sejuk dan kabut tipis kerap menyelimuti kawasan ini, menambah kesan magis perjalanan. Jangan lupa membawa air minum yang cukup dan camilan ringan untuk mengisi energi selama trekking.

Perjalanan ke Centhung Blumbang memberikan pengalaman lengkap: berenang di pemandian alami, trekking menembus hutan, hingga menikmati keindahan air terjun di kaki Gunung Lawu. Dengan durasi ideal setengah hari, destinasi ini cocok untuk traveler yang ingin melepas penat tanpa harus membawa perlengkapan camping berat. Informasi terkini seputar kondisi jalur dan buka-tutup kawasan bisa dikonfirmasi langsung ke pengelola setempat sebelum berangkat.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top