KALIMANTAN BARAT — Jill Hansen mengira jenazah mendiang suaminya, Steve Hansen, akan digunakan untuk memajukan penelitian medis terkait ketergantungan alkohol. Kenyataannya, tubuh Steve dijual kepada Departemen Pertahanan AS dan dijadikan objek uji coba ledakan untuk meneliti dampak ranjau darat terhadap tentara di dalam kendaraan militer.
Tubuh Steve dikirim ke Biological Resource Center (BRC) di Phoenix, Arizona pada Desember 2012 — lima tahun sebelum praktik semacam ini menjadi sorotan publik nasional.
Uji Ledakan Menggantikan Boneka Tabrak
Steve meninggal pada 2012 akibat sirosis hati. Selama hidup, ia sempat ingin mendonorkan organ tubuhnya, namun dokter menyatakan organnya tidak cukup sehat untuk transplantasi.
Angkatan Darat AS saat itu tengah meneliti dampak ledakan yang merambat dari bawah kendaraan militer. Boneka uji tabrak konvensional dinilai tidak akurat mereplikasi cedera akibat gelombang ledakan yang menembus badan kendaraan, sehingga jenazah manusia dianggap sebagai alternatif.
BRC, yang dikelola Stephen Gore, memosisikan diri sebagai penyedia layanan penghubung antara jenazah donor dengan kebutuhan pendidikan medis dan penelitian ilmiah. Namun laporan menunjukkan BRC menjual jenazah Steve kepada militer sebelum 2014 — tanpa izin yang mencakup penggunaan untuk pengujian militer.
"Mereka secara spesifik mengatakan kepada saya bahwa suami saya telah digunakan sebagai boneka uji tabrak," kenang Jill. "Saya sangat terpukul. Saya tidak akan pernah mengizinkannya jika saya tahu hal itu akan terjadi. Saya terus-menerus meminta maaf kepadanya."
Praktik Bisnis yang Minim Regulasi
Kasus Jill bukan kasus terisolasi. Penyelidikan federal yang berujung ke BRC bermula sejak 2011, ketika otoritas menemukan Arthur Rathburn, perantara jenazah yang menjalankan International Biological Inc. di Detroit.
Agen federal berulang kali mendapati Rathburn mengangkut kepala melintasi batas wilayah. Pelacakan terhadap pergerakan sisa-sisa jenazah itu akhirnya mengarah ke jaringan perantara yang mencakup BRC.
Akar masalahnya ada pada celah regulasi. Transplantasi organ diatur ketat oleh hukum federal, namun jenazah utuh dan bagian tubuh untuk tujuan pendidikan serta penelitian non-transplantasi berada di bawah sistem historis yang berbeda.
Perantara dapat menerima jenazah yang didonasikan, membedahnya, dan mendistribusikan bagian-bagian tubuh ke universitas, produsen perangkat medis, hingga peneliti pemerintah. Sekitar 20.000 warga Amerika mendonasikan jenazah mereka untuk kepentingan sains setiap tahunnya.
Gelombang Investigasi Federal
Minimnya regulasi membuat bisnis perantara jenazah sulit diawasi. Detail teknis terkait bagian tubuh Steve yang digunakan, lokasi pengujian, hingga tanggal pelaksanaan uji ledakan tidak pernah diungkapkan ke publik.
Untuk konteks, praktik serupa pernah terungkap di Indonesia ketika ada kasus penjualan organ ilegal yang melibatkan warga asing dan warga lokal. Perbedaan mendasar ada pada kerangka hukum: Indonesia memiliki UU Kesehatan yang mengatur donor organ, namun pengawasan terhadap lembaga penelitian swasta masih menjadi titik lemah.
Hasil investigasi federal terhadap BRC dan jaringan perantara lainnya baru terkuak bertahun-tahun kemudian. Bagi keluarga donor seperti Jill, informasi soal penggunaan jenazah kerap datang terlambat — setelah praktik yang tidak diinginkan terjadi.