KALIMANTAN BARAT — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bali memprediksi masa pancaroba dari kemarau ke penghujan berlangsung dua hingga tiga dasarian atau sekitar 30 hari. Selama periode itu, kondisi atmosfer tidak stabil dan memicu cuaca ekstrem berdurasi singkat yang berubah-ubah. Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor meningkat.
Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, menyebut durasi pancaroba bisa berbeda di setiap wilayah, bergantung pada Zona Musim (ZOM). Transisi musim membuat atmosfer bergerak tidak menentu, sehingga hujan lebat, angin kencang, dan longsor berpeluang muncul dalam waktu berdekatan.
Hujan deras dan angin kencang yang berlangsung sejak Minggu (1/11) hingga Senin (2/11) menumbangkan puluhan pohon dan memicu longsor di sejumlah titik Pulau Bali. Peristiwa itu jadi penanda awal bahwa periode peralihan musim tahun ini sudah berjalan.
BMKG meminta warga dan pelaku usaha di wilayah rawan, terutama lereng dan bantaran sungai, menyiapkan langkah mitigasi. Pemantauan kondisi harian jadi kunci karena cuaca ekstrem di masa pancaroba sulit diprediksi jauh ke depan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari. Penyebabnya fenomena El Nino berkategori sangat kuat yang menaikkan suhu udara dan menekan pertumbuhan curah hujan.
Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut memperkuat kondisi tersebut. Sekitar 61 persen wilayah Indonesia mengalami kemunduran jadwal musim hujan dibanding rata-rata klimatologisnya.
Awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi serentak. Sebanyak 24 persen luas daratan Indonesia masuk musim hujan pada November, sementara 17 persen lainnya baru pada Desember.
Musim hujan tahun ini juga diprediksi lebih singkat, tetapi dengan karakteristik curah hujan yang lebih lebat. Pola itu membuat risiko genangan dan longsor tetap tinggi meski periode basahnya tidak panjang.
Bagi pengguna smartphone, informasi cuaca resmi dari kanal BMKG dan aplikasi informasi cuaca bisa jadi rujukan harian sebelum beraktivitas di luar ruang. Pelaku bisnis digital yang bergantung pada pengiriman barang dan operasional lapangan sebaiknya menyiapkan skenario cadangan selama periode pancaroba.
Pemerintah daerah dan pengelola destinasi wisata di Bali menghadapi ujian serupa. Kesiapan jalur evakuasi, pemangkasan pohon rawan tumbang, dan pembersihan saluran drainase menentukan seberapa besar dampak cuaca ekstrem terhadap warga maupun kunjungan wisatawan.