Pencarian

Perempuan 'Aisyiyah Kalimantan Barat dan Pelajaran Kepahlawanan Lewat Taman Pustaka

Selasa, 03 November 2026 • 07:47:31 WIB
Perempuan 'Aisyiyah Kalimantan Barat dan Pelajaran Kepahlawanan Lewat Taman Pustaka
Dosen IAIN Pontianak Amalia Irfani menilai penghormatan kepada pahlawan diwujudkan melalui kebijakan publik yang berkeadilan dan pendidikan yang memerdekakan.

PONTIANAK — Amalia Irfani, dosen IAIN Pontianak yang juga pengurus LPPA PWA Kalimantan Barat, menilai kepahlawanan tidak berhenti pada seremoni dan tabur bunga di makam para pahlawan. Menurut dia, penghormatan sejati adalah memastikan kemerdekaan diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang berkeadilan, pendidikan yang memerdekakan, kesehatan yang merata, dan kesejahteraan yang bisa diakses seluruh rakyat.

Refleksi itu ia sampaikan dengan berpijak pada peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November, yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Penetapan tersebut merujuk pada puncak Pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Kepahlawanan Bukan Romantisme Sejarah

Dalam perspektif Muhammadiyah, perjuangan tidak ditempatkan sebagai romantisme masa lalu, melainkan gerakan pembebasan sosial. Kiai Ahmad Dahlan memandang musuh bangsa bukan hanya penjajahan kolonial, tetapi juga kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan ketertinggalan.

Pandangan itu dinilai masih relevan. Lebih dari tujuh dekade setelah kemerdekaan, persoalan-persoalan tersebut belum tuntas menjadi pekerjaan rumah bangsa.

Islam Berkemajuan yang menjadi basis gerakan Muhammadiyah menolak pembangunan yang berhenti pada fisik. Negara, dalam kerangka ini, diukur dari kemampuannya memuliakan manusia. Jalan tol, kawasan industri, dan gedung pencakar langit penting, tetapi tidak bisa menjadi tolok ukur tunggal keberhasilan pembangunan.

Ketika Negara Belum Hadir, Masyarakat Sipil Bergerak

Muhammadiyah telah lama menunjukkan model perjuangan yang berbeda. Saat negara belum menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat, organisasi ini membangun sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai layanan sosial secara mandiri.

Kehadiran amal usaha itu dibaca sebagai kritik sosial yang halus namun tegas. Ketika negara belum sepenuhnya hadir, masyarakat sipil bergerak mengisi ruang-ruang pelayanan publik.

Kritik menjadi lebih bermakna bila disertai contoh konkret. Gerakan 'Aisyiyah Kalimantan Barat dinilai sebagai salah satu contohnya. Melalui peluncuran Taman Pustaka 'Aisyiyah Hajjah Ruminah dan Komunitas Seni Hajjah Fauziah, mereka menghadirkan model pemberdayaan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.

Kebutuhan itu mencakup akses terhadap literasi, ruang belajar, dan pengembangan kebudayaan. Taman pustaka dirancang bukan sekadar tempat membaca, tetapi juga ruang edukasi, diskusi, dan pemberdayaan masyarakat.

Kritik Diam atas Pembangunan yang Terlalu Fisik

Langkah 'Aisyiyah Kalimantan Barat dibaca sebagai kritik diam terhadap orientasi pembangunan yang terlalu berpusat pada aspek fisik. Ketika banyak daerah berlomba membangun infrastruktur yang kasat mata, gerakan literasi mengingatkan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak dibangun dengan beton dan aspal semata.

Peradaban, menurut pandangan ini, lahir dari pengetahuan, tradisi membaca, budaya dialog, dan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Aspek-aspek fundamental itu kerap memperoleh perhatian lebih kecil dibanding pembangunan yang berdampak politik jangka pendek.

Perempuan 'Aisyiyah Kalimantan Barat memperlihatkan bahwa kepahlawanan masa kini tidak harus tampil melalui jabatan politik atau kekuasaan negara. Kepahlawanan dapat diwujudkan melalui kerja sunyi membangun kesadaran masyarakat.

Di tengah budaya instan, rendahnya minat baca, dan derasnya arus disinformasi digital, mendirikan taman pustaka dinilai sebagai tindakan yang jauh lebih revolusioner daripada menyelenggarakan acara seremonial. Mereka sedang menyiapkan fondasi peradaban yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan menentukan kualitas generasi pada masa depan.

Kekuasaan Harus Berorientasi Etik

Muhammadiyah melalui gagasan Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa kekuasaan harus memiliki orientasi etik. Negara tidak boleh menjadi instrumen segelintir elite, melainkan alat untuk mewujudkan kemaslahatan publik.

Karena itu, kebijakan publik mesti diuji berdasarkan sejauh mana ia memperkuat keadilan sosial, mengurangi kesenjangan, dan melindungi kelompok yang rentan. Jika para pahlawan dahulu mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan, tantangan generasi sekarang adalah memastikan kemerdekaan itu tidak kehilangan makna dalam kehidupan sehari-hari.

Follow www.kabarpontianak.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: suaramuhammadiyah.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks