NANJING — Aldi Gultom menilai ketimpangan pemberitaan global yang berlangsung beberapa dekade terakhir masih mungkin diatasi lewat jejaring berkelanjutan antarinsan pers Global South. Kemajuan teknologi informasi disebutnya membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas. Pandangan itu ia sampaikan di hadapan peserta seminar yang berlangsung paralel dengan forum utama.
Forum tahun ini mengangkat sejumlah isu spesifik, mulai dari kerja sama ekonomi di tengah perubahan dunia, penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam transformasi media, hingga kerja-kerja cek fakta. Rangkaian kegiatan berlangsung sepekan di Nanjing.
Negara Global South Masih Jadi Objek Arus Informasi
Menurut Aldi, sebagian wilayah dunia hingga kini hanya menjadi objek arus informasi global. Negara-negara Global South di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Oseania lebih sering diposisikan sebagai pengamat pasif.
Padahal, kata dia, negara-negara tersebut memiliki pengalaman khas dalam membangun dan memajukan kehidupan. Pengalaman itu dinilai menyimpan pelajaran berharga yang bisa dibagikan kepada negara lain.
Modernisasi negara berkembang dan meluasnya penggunaan teknologi digital membuat jurnalis Global South semakin mudah terhubung. Peliputan bersama, berbagi konten, dan penguatan suara Global South disebutnya sangat mungkin dilakukan.
"Kemampuan bercerita adalah kekuatan kita. Sekarang saatnya memperkuat kemampuan bernarasi dengan penguasaan teknologi informasi. Pertanyaannya, apakah organisasi-organisasi pers dari negara-negara Global South bersedia mengambil peran?" kata Aldi.
Pelatihan Digital Jadi Titik Awal Kerja Sama
Organisasi pers dari negara Global South bisa memulai langkah konkret lewat pelatihan digital dan pemahaman teknologi informasi. Dengan bekal itu, jurnalis punya peluang lebih besar bekerja lintas negara, bertukar bahan liputan, hingga mendistribusikan konten langsung ke masyarakat.
Aldi mengakui forum yang berlangsung hanya beberapa hari di Nanjing tidak akan menuntaskan seluruh tantangan teknis kerja sama besar tersebut. Meski begitu, ia menilai ada hasil yang sudah terbawa pulang.
"Namun, setidaknya, kita pulang dari forum ini dengan komitmen bersama untuk membangun jaringan, bekerja sama, dan belajar menceritakan kisah kita sendiri dengan suara dan cara pandang kita sendiri," ujarnya.
Semangat Bandung hingga Pelajaran dari Tiongkok
Dalam refleksinya, Aldi menyebut tradisi bercerita yang kaya serta budaya kuat mendokumentasikan sejarah menjadi pelajaran penting dari Tiongkok. Pengalaman itu ia dapatkan selama mengikuti tur ke sejumlah destinasi budaya di Provinsi Jiangsu.
"Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari China untuk memperkuat kemampuan kita dalam bercerita, sekaligus memastikan bahwa suara dan kisah kita sendiri dapat didengar oleh dunia," kata dia.
Profesor di Sekolah Hubungan Internasional Universitas Nanjing, Zhang Yun, yang hadir sebagai pakar, menegaskan mispersepsi sebagai salah satu masalah kunci yang harus diperhatikan jurnalis Global South. Ia juga mengingatkan kehadiran para jurnalis di Nanjing tidak lepas dari semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.
Zhang berharap Semangat Bandung menginspirasi lahirnya Semangat Nanjing yang mendorong jurnalis negara berkembang merepresentasikan bangsanya sendiri dalam arus pemberitaan global.
Belt and Road Journalists Forum dan Jejak Penyelenggaraannya
Belt and Road Journalists Forum merupakan kegiatan utama Belt and Road Journalists Network (BRJN). Forum ini pertama kali digelar pada 2017 dan telah berlangsung delapan kali berturut-turut.
Setiap tahun, forum menghadirkan hampir 300 pimpinan organisasi pers dan eksekutif senior media dari berbagai negara. Kegiatan ini menjunjung Semangat Jalur Sutra yang berlandaskan prinsip perdamaian dan kerja sama, keterbukaan dan inklusivitas, saling belajar, serta saling menguntungkan.
Melalui kunjungan lapangan dan diskusi tematik, forum berbagi kisah inspiratif, pengalaman profesional, serta wawasan terkini yang berorientasi ke masa depan.